With Reverence And Awe: Returning to the basics of Reformed Worship

Judul Buku : With Reverence And Awe: Returning to the basics of Reformed Worship
Penulis : D.G.Hart and John R. Muether
Penerbit : P&R Publishing Company
Tebal buku : 203 halaman
Tahun : 2002
Cetakan : Pertama
Bahasa asli : Inggris

Melihat kekristenan saat ini, topik “worship” sering dibicarakan dengan berbagai opini, bahkan di kalangan gereja Reformed sendiri. Banyak gereja berusaha menyajikan beragam cara untuk dapat menarik orang-orang yang belum percaya agar tertarik mendengarkan Firman Tuhan. Perubahan atau “inovasi” terbesar gereja tersebut ialah dalam tata cara beribadah yang user friendly (dapat dengan mudah dipahami). Penekanan kepada pengalaman beribadah (tidak berpusat pada Tuhan melainkan pada kepuasan diri pribadi saja), penyederhanaan dan kebebasan/ketidakkakuan, menjadi tolak ukur utama Ibadah yang baik.

Kedua penulis yang berasal dari Orthodox Presbyterian Church (OPC) mengamati bahwa setidaknya ada dua asumsi yang melatarbelakangi perubahan ini. Pertama, ketulusan dan informalitas dijadikan barometer atas ibadah yang baik. Spontanitas dan kebebasan dari aturan-aturan tata Ibadah yang mengikat, mempermudah luapan emosi dan perasaan untuk “menikmati” Tuhan – alasan : bukankah Katekismus Singkat Westminster butir pertama menyatakan bahwa tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia? Padahal perasaan kita dapat dengan mudah menipu diri kita, karena perasaan kita itu sendiri telah tercemar oleh dosa dan tidak selalu dalam keadaan yang stabil, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai standar. Kedua, penginjilan dianggap sebagai tugas gereja yang terutama, sehingga segala hal yang menghalangi orang-orang luar untuk datang ke gereja harus disingkirkan, termasuk dalam Ibadah. Pertanyaannya : sejak kapan Alkitab mengajarkan kita untuk mendesain Ibadah bagi orang-orang luar?

Dengan keprihatinan yang mendalam, melalui buku ini kedua penulis mengajak para pembaca untuk kembali pada prinsip-prinsip dasar Ibadah, sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab dan teologi Reformed. Mengapa teologi Reformed? Karena kedua penulis berpendapat bahwa Ibadah mengikuti / menyatakan teologi yang dianut (Titus 2:1-2). Teologi yang baik pasti menghasilkan Ibadah yang baik, demikian sebaliknya. Jika saat ini Ibadah gereja-gereja Reformed mengalami perubahan, maka ada kemungkinan bahwa teologi Reformed tidak lagi dipakai sebagai landasan bagi Ibadah.

Buku ini dibagi menjadi empat topik bahasan utama. Pertama, mengenai SIAPA yang beribadah. Tiga bab ditulis untuk membahas topik ini, masing-masing dengan judul “Gereja & Dunia”, “Tujuan Gereja” dan “Sebuah komunitas yang beribadah”. Penulis mengajak pembaca untuk memikirkan relasi gereja dan dunia dalam beribadah. Apakah ibadah merupakan sarana untuk menarik orang-orang di luar gereja kepada Injil, ataukah seharusnya merupakan suatu ekspresi identitas gereja sebagai orang asing dan pendatang di dalam dunia? Kata gereja dalam bahasa Ibrani adalah “ekklesia”, artinya “dipanggil keluar”, yaitu yang dipisahkan oleh Allah dari dunia untuk berkumpul menjadi umatNya (Ulangan 4:10). Maka ibadah yang sejati, mungkin akan terlihat aneh dan janggal bagi dunia, tetapi biarlah demikian, karena ibadah yang sejati memang ditujukan untuk umat Allah sendiri, bukan untuk dunia. Tujuan gereja bukan sekedar untuk mengajak orang untuk “percaya” kepada Kristus, tetapi untuk memuridkan mereka, untuk mendisiplin dan mengajarkan keseluruhan firman Tuhan kepada mereka. Ibadah yang baik tidak akan menghindarkan diri untuk tidak mengajarkan semua hal yang diperintahkan Kristus.

Topik kedua, mengenai KAPAN kita beribadah. Setiap orang Kristen tahu jelas bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk beribadah pada hari Sabat. Tetapi sudahkah kita sungguh-sungguh menguduskan hari Sabat? Ataukah hari Sabat menjadi sama saja dengan hari-hari lainnya?

Topik ketiga, mengenai BAGAIMANA kita beribadah. Enam bab berikutnya ditulis untuk membahas topik ini. Menyoroti prinsip Ibadah yang menyenangkan hati Allah, penulis mengajak kita untuk melihat sejarah, yaitu apa yang diperjuangkan oleh para Reformator dan aplikasinya terhadap Ibadah. Penulis menjelaskan mengenai dua prinsip yang penting bagi Ibadah Reformed, yaitu Regulative Principle (dibuat sejak jaman Reformasi dengan berlandaskan firman Tuhan untuk mengatur tata laksana ibadah), dan dialog antara Allah dengan umatNya sebagai natur dari Ibadah. Prinsip yang kedua ini memberi arah pada kita mengenai elemen-elemen apa yang termasuk dalam Ibadah, mengenai susunan liturgi dan mengenai para partisipan dalam Ibadah. Selain kedua prinsip ini, kita harus ingat bahwa Ibadah harus dilaksanakan dengan sikap hati yang benar : dengan penuh hormat dan kekaguman kepada Tuhan. Penulis mengajak kita melihat betapa jauhnya Ibadah pada jaman ini telah menyeleweng dari prinsip-prinsip yang penting ini. Ibadah yang benar dilaksanakan untuk menyenangkan hati Allah, bukan untuk menyenangkan manusia.

Di bab terakhir, penulis membahas topik yang paling kontroversial dalam pembicaraan mengenai ibadah, yaitu MUSIK. Dan buku ini ditutup dengan meringkaskan lagi prinsip-prinsip mendasar untuk menolong kita menguji Ibadah yang benar, yang Reformed, yang berdasarkan pada firman Tuhan.

Landasan liturgi Ibadah kaum Reformed didirikan atas dasar Firman Tuhan yang berpusat pada kemuliaan Allah dengan bentuk persekutuan yang tertinggi antara Allah dengan umatNya yang mampu memperkuat kehidupan spritualitas kita melalui anugerah. Tuhan berbicara melalui doa, pembacaan Firman Tuhan, kotbah, sakramen, dan pengucapan syukur. Kita merespon tindakan aktif Allah dengan menaikkan pujian, berdoa, dan mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli. Ibadah adalah sebuah percakapan yang suci antara surga dan bumi, awal dari kemuliaan, bukan sebuah hambatan bagi kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, sehingga tidak dapat digantikan oleh fenomena-fenomena hiburan yang marak saat ini. Ibadah kaum Reformed ialah suatu ucapan syukur atas belas kasih Tuhan dalam ketetapanNya kepada kita dalam dunia yang fana ini dan semuanya semata-mata adalah anugerah.

Buku ini ditulis dengan tujuan membantu para pelayan Tuhan dan jemaat bersama-sama melakukan Ibadah dengan cara yang berkenan di hadapan Tuhan Yesus Kristus, Sang Juruselamat. Kita dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat kritis mengenai kehidupan beribadah yang mungkin selama bertahun-tahun telah kita jalani. Apakah kita memuaskan diri sendiri atau Tuhan Allah? Apakah kita berjuang untuk kemuliaan Tuhan atau untuk sukacita dan kenyamanan kita sebagai manusia? Apakah kita memuaskan para penyembah atau menghormati penyembah-penyembah yang benar (Yohanes 4:23)?

Mari kita tidak lagi berkata, “Beribadahlah kepada Tuhan Allah dengan caramu sendiri dan kami akan beribadah dengan cara kami sendiri”, melainkan, “Beribadahlah kepada Tuhan Allah dengan caramu sendiri dan kami akan beribadah kepada Tuhan Allah hanya dengan caraNya”.
(蔡)

http://www.challies.com/archives/book-reviews/with-reverence.php
Foto:http://faithanchorage.files.wordpress.com/2009/06/hart-worship.jpeg

 
Share